ROG Xbox Ally masuk Indonesia lewat pre-order 26ā30 September 2025 di ASUS Online Store, lalu dijual umum melalui partner resmi ASUS mulai 1 Oktober 2025. Setahun kemudian, pertanyaannya sudah bergeser. Bukan lagi soal seberapa kencang handheld ini, tapi soal posisinya sekarang: harganya turun, versi X dengan chipset lebih besar tetap ada di atasnya, dan Windows handheld makin banyak pilihan. Jadi, di Rp 9,9 juta, ROG Xbox Ally masih pilihan yang masuk akal atau justru kompromi yang terlalu banyak?
Artikel ini membahas ROG Xbox Ally (RC73YA) dari sisi pemakaian sehari-hari: bobotnya saat digenggam, layar 120Hz-nya, performa Ryzen Z2 A di game nyata menurut angka resmi ASUS, sampai siapa yang sebaiknya menabung tambahan Rp 7 juta untuk versi X.
1. Desain dan Bobot: 670 Gram dengan Grip Rasa Controller Xbox
Dimensinya 29,0 x 12,1 x 2,75ā5,09 cm dengan bobot 670 gram. Angka bobot itu penting karena handheld Windows sering dikeluhkan berat: ROG Xbox Ally tercatat 45 gram lebih ringan dari ROG Xbox Ally X yang ada di 715 gram, dan selisih itu terasa saat main sambil duduk agak lama dengan posisi tangan menggantung.
Sasisnya didesain ulang dengan grip berkontur yang mengikuti bentuk controller nirkabel Xbox. Bagian punggungnya tidak rata, ada tonjolan tempat jari tengah beristirahat, jadi perangkat tidak cenderung meluncur dari telapak tangan. Varian yang dijual resmi di Indonesia adalah RC73YA-Z2AA30A6W dengan bodi putih.
Kontrolnya lengkap untuk ukuran handheld: dua analog stick ukuran penuh, D-pad, tombol A/B/X/Y, dua bumper, dua trigger Hall Effect (lebih tahan aus dibanding potensiometer biasa), dua grip button yang bisa dipetakan, plus tombol Xbox khusus, tombol View, Menu, Command Center, dan Armoury Crate. Ada HD haptics dan giroskop 6-axis. Tombol power sekaligus berfungsi sebagai pemindai sidik jari, dan ada Microsoft Pluton sebagai prosesor keamanan.
2. Layar 7 Inci FHD 120Hz: Bukan OLED, Tapi Bukan Layar Murahan
Panelnya 7 inci IPS-level, resolusi FHD 1920 x 1080 dalam rasio 16:9, refresh rate 120Hz, kecerahan 500 nits, dan cakupan warna 100% sRGB. Permukaannya memakai lapisan anti-glare dan low-reflection (AGLR) yang membuat pantulan lampu ruangan tidak terlalu menyilaukan, ditutup Gorilla Glass Victus dan Gorilla Glass DXC. Layar sentuhnya mendukung 10 titik sentuh.
Yang sering ditanyakan: apakah tidak masalah memakai panel IPS di harga Rp 10 juta? Untuk handheld, keunggulan OLED paling terasa di konten gelap dan sudut pandang. Di sini kompensasinya datang dari FreeSync Premium yang membuat frame rate tidak seratai layar tanpa VRR, dan dari 120Hz yang benar-benar berguna di game kompetitif ringan. Kecerahan 500 nits cukup untuk main di dalam ruangan dan di teras pada pagi hari; di bawah matahari siang langsung, semua handheld sekelas ini akan kewalahan.
3. Performa: Ryzen Z2 A, 16 GB LPDDR5, dan Angka Resmi ASUS
Jantungnya AMD Ryzen Z2 A: 4 core dan 8 thread, clock dasar 2,8 GHz dengan boost sampai 3,8 GHz, cache 6 MB, dipasangkan grafis Radeon terintegrasi. RAM-nya 16 GB LPDDR5 6400 MT/s dual channel yang disolder ke papan, jadi angka ini final seumur pemakaian. Penyimpanan 512 GB PCIe 4.0 NVMe dalam format M.2 2280 standar ā artinya bisa diganti SSD pasar umum, bukan modul khusus ā ditambah slot microSD UHS-II untuk kartu game dan emulator.
ASUS mencantumkan perbandingan performa resmi di halaman produknya: pada mode Performance 15W dengan adaptor terpasang dan resolusi 720p, Forza Horizon 5 berjalan sekitar 70 fps di ROG Xbox Ally (Z2 A) versus 60 fps di ROG Ally generasi pertama (Z1); Gears of War: Reloaded sekitar 72 fps versus 60 fps. Angka itu bukan hasil uji independen dan memang diukur di 720p, bukan 1080p ā jadi bacalah sebagai gambaran kelas performa, bukan janji frame rate di semua game.
Konsekuensi jujur dari 4 core/8 thread: game AAA terbaru akan lebih nyaman di 720pā900p dengan setting menengah, atau di 1080p hanya untuk judul yang lebih ringan dan game kompetitif. Game indie, RPG lama, dan judul Game Pass yang dioptimalkan untuk handheld justru terasa pas di perangkat ini.
4. Xbox Full Screen Experience: Rasa Konsol di Perangkat Windows
Ini pembeda utama ROG Xbox Ally dibanding handheld Windows lain. Begitu dinyalakan, perangkat masuk ke Xbox full screen experience: antarmuka berbasis controller, bukan desktop Windows. Tombol Xbox membuka Game Bar untuk melihat statistik sistem, merekam gameplay, atau mengobrol dengan teman, sementara Command Center mengatur pengaturan cepat seperti TDP, kecerahan, dan profil performa.
Karena sistemnya Windows 11 Home, seluruh katalog PC tetap bisa diakses: Xbox app, Game Pass, Steam, Epic, sampai emulator. Ada Xbox Remote Play untuk streaming game yang terpasang di konsol Xbox di rumah, dan Xbox Cloud Gaming (butuh langganan Game Pass Ultimate) untuk main tanpa instalasi. Pembelian di Indonesia juga mendapat bonus 3 bulan PC Game Pass sesuai keterangan ASUS Online Store, jadi ada katalog game siap main sejak hari pertama.
Untuk kustomisasi, Armoury Crate Special Edition mengatur pencahayaan RGB, mode performa, kurva kipas, sampai pemetaan tombol dan profil thermal. Dukungan perangkat lunak AMD seperti RSR dan AMD Fluid Motion Frames ikut tersedia, dan itu membantu menaikkan frame rate di game berat tanpa harus menurunkan resolusi render.
5. Baterai 60Wh, Pengisian 65W, dan Konektivitas
Baterainya 60Wh (4 sel) dengan adaptor USB-C 65W. Halaman produk ASUS Indonesia tidak mencantumkan angka jam pemakaian untuk model ini, jadi yang bisa dipegang adalah kapasitasnya: 60Wh di sini, sementara ROG Xbox Ally X membawa 80Wh. Kabar baiknya, Ryzen Z2 A dirancang lebih hemat daya daripada Z2 Extreme, jadi untuk game indie dan streaming, satu kali cas biasanya cukup untuk sesi panjang; untuk AAA berat, siapkan adaptor atau power bank PD.
Portnya dua USB-C 3.2 Gen 2 yang mendukung DisplayPort dan power delivery, satu jack audio 3,5 mm, dan pembaca microSD UHS-II. Kedua port USB-C itu berarti Anda bisa mengisi daya sambil menyambungkan dock atau monitor. Catatan penting: tidak ada USB4 atau Thunderbolt di model non-X, jadi bila rencananya memakai eGPU, versi X yang harus dipilih. Untuk nirkabel ada Wi-Fi 6E tri-band dan Bluetooth 5.4 sesuai halaman spesifikasi ASUS Indonesia.
Audionya dua speaker dengan Smart Amplifier, dukungan Dolby Atmos, Hi-Res untuk headphone, dan mikrofon array dengan AI noise canceling ā berguna saat main co-op dengan voice chat. Untuk pengalaman TV, ASUS menyediakan aksesori terpisah seperti ROG Bulwark dan Gaming Charger Dock, yang tidak termasuk dalam kotak.
6. Harga dan Posisinya Setahun Kemudian
Harga ASUS untuk ROG Xbox Ally saat ini Rp 9.999.000, turun dari harga normal Rp 10.999.000. Sebagai pembanding, saat pre-order September 2025 perangkat ini dibanderol Rp 10.099.000 ā jadi setelah setahun, harganya justru sedikit lebih murah dari harga perkenalan, meski di pasar komponen global harga banyak perangkat naik.
Di ASUS Online Store harga Rp 9.999.000 itu tampil sebagai special price, sementara toko ASUS Indonesia Official di marketplace mencantumkan Rp 10.669.000 dengan sisa stok 10 unit saat artikel ini ditulis. Keduanya bergaransi resmi ASUS 2 tahun, jadi tidak ada alasan membeli unit tanpa garansi untuk perangkat sekelas ini.
Pembanding langsungnya masih internal: ROG Xbox Ally X dijual Rp 16.999.000 (dari Rp 17.999.000) dengan Ryzen AI Z2 Extreme 8 core/16 thread, RAM 24 GB LPDDR5X, SSD 1 TB, baterai 80Wh, dan bobot 715 gram. Selisih Rp 7 juta itu yang harus dijawab calon pembeli: apakah perlu performa puncak dan USB4, atau cukup versi Rp 9,9 juta untuk main Game Pass dan game PC sehari-hari.
Kesimpulan
ROG Xbox Ally adalah salah satu cara paling masuk akal masuk ke dunia handheld Windows di Indonesia saat ini: harga resmi Rp 9.999.000, garansi 2 tahun, layar 120Hz yang menyenangkan, dan Xbox full screen experience yang membuat Windows tidak terasa seperti Windows. Komprominya jelas dan terukur ā 4 core, RAM soldered, panel IPS 500 nits, dan tanpa USB4.
Paling cocok untuk: pemain yang sudah berlangganan Game Pass atau punya library Steam besar dan ingin memainkannya di kasur, di perjalanan, atau saat TV sedang dipakai orang lain; pemain game indie, roguelike, racing, dan judul kompetitif ringan yang tidak menuntut 1080p high. Sebaiknya naik ke ROG Xbox Ally X kalau target utamanya game AAA terbaru di 1080p, butuh 24 GB RAM dan 1 TB storage sejak awal, atau berencana memakai eGPU. Dan kalau anggaran ketat, tunggu momen promo ā perangkat ini sudah setahun di pasar, dan harga Rp 9.999.000 sekarang masih sering dipotong lagi lewat voucher toko resmi.
š¬ Komentar & Pengalaman Pengguna (0)
Berbagi opini jujur Anda tentang perangkat ini